Adat Istiadat Urang Baduy Ketika Menghadapi Peristiwa Kematian

Suasana alam di Kampung Baduy

Banten, Bewara Pakuan – Jodo, Pati, Bagja, Cilaka eta Rusiah Pangeran. Peribahasa Sunda tersebut menggambarkan bahwa peristiwa kematian adalah rahasia sang pencipta.

Adapun peristiwa kematian pada masyarakat Baduy biasa disebut kaparupuhan.

Ketika mendengar berita kematian seseorang, warga kampung serta kerabat berdatangan menunjukkan rasa duka cita mereka yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. 

Mereka akan datang sambil membawa beras, kelapa, gula aren atau makanan yang sudah siap dihidangkan. 

Jembatan tradisional dari bambu

Mereka pun tanpa ragu akan menyingsingkan baju dan mengulurkan tangan membantu segala sesuatu terkait dengan pengurusan jenazah dan upacara penguburan. 

Selain itu, masyarakat Baduy juga akan bergotong royong membantu keluarga yang ditinggalkan untuk keperluan hajatan kematian. 

Pada saat ada kematian, pantangan bagi orang Baduy menangis sampai mengeluarkan suara keras atau biasa disebut buyut tabu

Apabila orang yang meninggal itu pria, jenazahnya akan diurus oleh seseorang yang disebut panghulu jalu, dan jika yang meninggal dunia itu perempuan, maka penghulu bikang yang akan mengurus jenazahnya. 

Suasana Pemukiman Kampung Masyarakat Baduy

Pengurusan jenazah diawali dengan memandikannya di atas batang pohon pisang, yang diletakkan di bagian samping muka rumah. 

Seluruh badan jenazah akan digosok dengan daun sirih sampai benar-benar bersih. Setelah itu, jenazah dibungkus dengan kain kafan tenunan setempat. 

Pada waktu yang telah ditentukan, jenazah akan diberangkatkan ke tempat pemakaman yang letaknya dekat dengan kampung. 

Pada waktu jenazah diberangkatkan dari rumah duka, salah seorang kerabatnya mengantar prosesi tersebut dengan doa yang disebut ceurik panglayuan atau tangisan mayat. 

Setibanya di lokasi pemakaman, sudah disiapkan makam yang telah digali dengan bambu yang diruncingkan. Selanjutnya, jenazah pun dikubur. 

Orang Baduy akan menandai kuburan tersebut dengan pohon hanjuang.

Mereka adalah kelompok masyarakat yang tidak pernah memelihara kuburan.

Keluarga yang ditinggal mati akan mengadakan hajatan dengan memotong beberapa ekor ayam. Semua warga Baduy yang membantu penyelenggaraan upacara kematian diberi makan, bahkan waktu mereka kembali juga dibekali nasi dengan lauknya. 

Pihak keluarga yang berduka  juga akan mengirim makanan dalam jumlah yang cukup banyak kepada puun dan pemangku adat lainnya. 

Hajatan atau upacara kematian itu dilakukan selama 3 hari. 

Kerabat dan tetangga terdekat berkumpul, mengobrol, kemudian disuguhi makan atau makanan ringan selama beberapa malam di rumah duka. (berbagai sumber).

Respon (13)

  1. Dalam artikel ini ternyata suku Baduy masih mempercayai adat istiadat terdahulu dan masih melekat pada diri mereka sampai sekarang

  2. Setelah membaca artikel ini, suku Baduy masih mempercayai adat istiadat nenek moyang nya terdalu dahulu. Mungkin alasan suku Baduy masih mempercayai adat istiadat nenek moyang nya terdahulu untuk melestarikan kebudayaannya agar tidak luntur

  3. Adat istiadat di Baduy telah bertahan sangat lama dan turun temurun. Cara pemakaman pasti berbeda dengan adat atau kepercayaan yang lainnya, karena setiap daerah memiliki adat budaya yang beragam.

  4. Keberagaman adat istiadat di indonesia memang menarik, mungkin suku baduy masih memegang teguh kepercayaan adat mereka itu. Tapi kita tidak bisa melarangnya karena itu adalah hak mereka

  5. adat istiadat baduy jangan sampai hilang karena Ada istiadat ini patut dilestarikan. Dalam adat istiadat ini jika ada salah seorang yang meninggal maka seluruh kerabatnya akan memberi kebutuhan pangan dan mendoakan org yg meninggal itu selama 3 hari. Adat istiadat ini ada persamaan dengan agama, karena ketika ada yang meninggal tidak boleh ada yang menangisi jenazah tersebut, melainkan harus mendoakannya

  6. Setiap daerah memiliki adat istiadat tersendiri yg masih kental seperti urang baduy dalam mengurus jenazah dan pantangan bagi orang Baduy menangis sampai mengeluarkan suara keras.

  7. Baduy ini kental akan adat istiadatnya,dan masih mempercai leluhur, dan kita harus menghargainya mungkin itu sudah melekat dan tidak bisa diubah karena turun temurun.

  8. Tanggapan saya setelah membaca artikel ini ,setiap daerah maupun tempat mempunyai adat istiadat bahkan turun temurun yang tidak bisa dihilangkan

  9. Setelah membaca artikel ini suku Baduy Masih mempercayai adat istiadat daerah nya sendiri meskipun zaman telah berubah

  10. Di baduy masih melekat tentang persoalan adat istiadatnya dan mungkin memang tidak bisa diubah sesuai perkembangan zaman

  11. Mereka masih mempercayai kepercayaan dan adat istiadat mereka yang mungkin tidak bisa dihilangkan maskipun dengan perkembangan zaman

  12. setiap daerah pasti masih ada jiwa melekat tentang adat istiadatnya, itu sudah menjadi hal yg lumrah dan sdh menjadi hal yg turun temurun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *