267 views

Laksamana Malahayati: Bunga Aceh Yang Perkasa #2

Laksamana Malahayati
pic - net

[BP] – Tatar Sunda

Panglima Armada V Aceh, ketika itu dipegang oleh Laksamana Muda Mahaja Lela. Pada tahun 1581, Sultan Mansur Syah menugaskan Malahayati memimpin penyerangan ke benteng La Formosa di Malaka. 

Penyerangan kali ini melibatkan 40 buah kapal perang Aceh dengan kekuatan 10.000 orang prajurit Aceh. 

Masyarakat Aceh melepas kepergian Armada Perang Laut Aceh yang berjumlah luar biasa ini di bawah pimpinan seorang Laksamana yang bernama Malahayati.

Kedatangan pasukan Aceh ini telah menggemparkan pihak Portugis yang ada di Malaka.

Apalagi ketika mereka tahu bahwa Malahayati yang memimpin langsung pasukan ini. Portugis sudah merasakan kehebatan Malahayati dalam pertempuran laut sebelumnya.

Pertempuran segera pecah dengan dahsyatnya. Puluhan ribu pasukan Aceh mengepung dan menyerang benteng Portugis dengan meriam dan berbagai senjata lainnya. Sementara itu armada laut Aceh di lautan bertempur dengan armada laut Portugis dengan dahsyatnya.

Dalam penyerangan ini, Portugis berhasil mempertahankan bentengnya di Malaka dengan susah payah dari serangan prajurit Aceh yang menyerang mereka dengan gagah berani.

Sedangkan di Lautan armada laut Portugis kocar-kacir dan hampir hancur tak tersisa.

Dalam serangan ini, benteng Portugis memang belum berhasil dikuasai oleh Aceh. Tetapi armada laut Aceh telah berhasil memporak-porandakan kekuatan kapal-kapal perang Portugis di lautan. 

Perairan Riau yang sebelumnya merupakan daerah rawan karena kapal-kapal Portugis sering melakukan perampasan barang-barang terhadap kapal dagang yang lewat menjadi aman.

Sultan Alaudin Mansur Syah menilai bahwa penyerangan armada Aceh di bawah pimpinan Malahayati itu berhasil. Itulah sebabnya maka pada tahun 1582 Sultan mengangkat Malahayati menjadi Panglima Armada V kerajaan Aceh dengan pangkat Laksamana Muda. Ketika itu, Malahayati baru menginjak usia 22 tahun.

Intrik politik di Istana Aceh Darussalam

Masa pemerintahan Sultan Alaudin Mansur Syah yang memerintah dari tahun 1577-1585 adalah masa yang gemilang bagi Kerajaan Aceh Darussalam. 

Hampir seluruh wilayah Sumatera telah menjadi wilayah kekuasaannya, di samping Semenanjung Malaya. 

Hanya wilayah Malaka yang masih menjadi daerah kekuasaan Portugis. Meskipun demikian Portugis selalu merasa tidak aman dan terancam.

Betapa tidak, sebab mereka selalu dihantui kalau armada Laut Aceh menyerangnya sewaktu-waktu.

Pada masa lalu, Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia sampai dengan abad ke-19

Hasil perkebunan lada Aceh, menempati urutan pertama di kepulauan Nusantara ketika itu. Kemudian disusul oleh wilayah Banten dan Palembang. 

Maka tidak heran bila kapal-kapal dari Eropa banyak menyinggahi pelabuhan Aceh untuk membeli lada yang banyak dibutuhkan orang di daratan benua Eropa. 

Di samping sebagai penghasil lada yang utama, angkatan laut Aceh juga sangat disegani. Angkatan Laut inilah yang banyak berperan dalam mengamankan jalur perdagangan di Selat Malaka.

Meskipun Sultan Alauddin Mansur Syah dinilai berhasil memakmurkan rakyatnya, namun di pihak kerajaan masih ada saja orang yang tidak puas dan tidak menyukainya. 

Mereka adalah dari keturunan Sultan Ali Mughayat Syah yang tidak menginginkan orang dari keturunan di luar kerajaan memegang tampuk pemerintahan. 

Dan memang sebenarnyalah, Sultan Alauddin Mansur Syah yang tengah berkuasa saat itu bukan keturunan dari garis Sultan Ali Mughayat Syah, melainkan putra Sultan Perak. 

Kisahnya bermula ketika pada tahun 1551 Sultan Alauddin Riayat Syah al Qahar mengerahkan angkatan lautnya untuk menghancurkan kekuatan Portugis di Malaka. 

Ketika itu angkatan laut Aceh berkekuatan 20.000 orang. Sungguh luar biasa kuat dan besarnya kekuatan Armada Laut Aceh saat itu.

Ketika benteng La Formosa berhasil dikepung rapat oleh Armada Laut Aceh dan penghuninya mulai kehabisan bahan makanan. 

Sultan Akhmad dari Kesultanan Perak menjual beras secara diam-diam kepada Portugis. Tak hanya itu, sebab apa yang dilakukan Sultan Perak itu diikuti pula Kerajaan Johor. 

Tentu saja sikap mereka amat menggusarkan pasukan Aceh. Maka komandan pasukan Aceh, Laksamana Abdul Jalil memerintahkan pasukannya untuk menyerang Perak dan Johor. 

Kedua kerajaan itu terpaksa menyerah dan berjanji tak akan menolong Portugis lagi. Untuk memperkuat perjanjian itu, Sultan Mansur Syah, putra Sultan Perak dibawa ke Aceh dan tinggal di Istana al Qahar.

Putra Sultan Perak itu, selama berada di Aceh memperlihatkan sikap yang baik dan juga cakap.

Oleh karena itu Sultan Aceh kemudian menikahkannya dengan putri Sultan sendiri yang bernama Ratna Indra Wangsa. 

Dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang diberi nama Perkasa Alam Syah yang kemudian bergelar Iskandar Muda Makhota Alam. 

Oleh karena itulah, orang Aceh yang masih mempunyai garis keturunan dari Sultan Ali Mughayat Syah tidak menyukai Sultan Mansur Syah yang dianggapnya berada di luar garis keturunan Aceh.

Kemudian timbullah gerakan-gerakan untuk menggulingkan Sultan. Gerakan ini dipimpin oleh Panglima Raja Buyung, putra Gubernur Inderapura yang bernama Munawar Syah. 

Waktu itu, Panglima Raja Buyung menjabat sebagai Komandan pasukan  Garnizun Ibukota. 

Panglima Raja Buyung kemudian mengupayakan agar Malahayati mendukung gerakannya.

Maka diutusnyalah Teuku Imum Mukim Cadek, dan Bupati pulau Weh untuk menemui Laksamana Muda Malahayati dan menyampaikan hal itu.

Tapi rencana gerakan yang dipimpin Panglima Raja Buyung itu ditentang habis-habisan oleh Malahayati. 

Ketidaksetujuan Malahayati itu didasarkan pada kenyataan bahwa meskipun Sultan Mansur Syah keturunan Kesultanan Perak tetapi ia telah berjuang untuk memakmurkan rakyat Aceh dan apabila ia disingkirkan secara paksa, maka dapat dipastikan Kerajaan Perak dan Johor akan memisahkan diri dari Kesultanan Aceh. 

Karena upaya untuk mendapatkan dukungan itu gagal, maka Teuku Imum Mukim Cadek kembali ke ibukota dengan tangan hampa.

Tujuh hari setelah itu, Laksamana Muda Malahayati menyusul ke Banda Aceh untuk menyampaikan laporan perihal gerakan yang dipimpin Panglima Raja Buyung kepada Sultan Mansur Syah. 

Akan tetapi ketika Malahayati belum lagi sempat menemui Sultan Mansur Syah, Panglima Raja Buyung telah bergerak lebih dahulu.

Sultan Mansur Syah yang berada di Kuala Aceh beserta pengikutnya ditangkap dan dibunuh. 

Pasukan Panglima Raja Buyung berhasil merebut istana dan ibukota.

Tak luput pula, Malahayati beserta pengawalnya ditangkap dan dilucuti senjatanya. Malahayati dikenakan sebagai tahanan rumah selama 3 tahun.

Pada bulan Januari 1588, Malahayati yang dijuluki Singa Betina dari Aceh itu berhasil meloloskan diri.

Ia kemudian menuju Jambo Aye tempat armada yang dipimpinnya berada. 

Kedatangannya disambut gembira oleh para anggota armada. Sementara itu, Laksamana Maharaja Lela yang ditunjuk Panglima Raja Buyung untuk menggantikan kedudukannya berhasil ditawan. 

Tiga hari setelah berhasil meloloskan diri itu, Malahayati bersama 24 kapal Armada yang dipimpinnya menuju Banda Aceh. 

Kekuatan armada itu bertambah lagi ketika di perairan Biereun, armada III yang dipimpin oleh Laksamana Muda Zainal Abidin Anjong bergabung pula. 

Laksamana Husin memimpin Armada VII yang berpangkalan di Ulee Lheu bergabung pula dengan Malahayati.

Pada bulan Maret 1588, Malahayati memberikan ultimatum agar Panglima Raja Buyung menyerah. Jika tidak, maka jalan kekerasan akan dilakukan. Ultimatum itu membuat Panglima Raja Buyung tak berkutik. Ia pun akhirnya menyerah.

Malahayati kemudian mengambil alih kekuasaan dan menjadi pemimpin Kerajaan Aceh untuk sementara.

Seminggu kemudian, Majelis Kerajaan yang sebelumnya telah dibekukan oleh Panglima Raja Buyung, mengadakan sidang dan menetapkan Pangeran Zainal Abidin menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Alauddin Riayat Syah. 

Langkah dan gerakan yang dilakukan oleh Laksamana Malahayati telah berhasil menyelamatkan Kerajaan Aceh dari perpecahan dan kehancuran dari dalam – (bersambung). [berbagai sumber: jayadewata]

 

Respon (5)

  1. Artikel diatas membahas tentang Langkah dan gerakan yang dilakukan oleh Laksamana Malahayati telah berhasil menyelamatkan Kerajaan Aceh dari perpecahan dan kehancuran dari dalam

  2. banyak nilai yang dapat di ambil dari artikel diatas yang membahas tentang laksamana malahayati sosok wanita yang sangat mengagumkan dan membanggakan.

    1. Dari konteks diatas menunjukan makna sosok wanita yang hebat dan berwibawa dan sosok laksamana malahayati ini merupakan tokoh yang menyelamatkan kerajaan aceh dari perpecahan dan kehancuran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.