130 views

Azerbaijan Sambut Baik Dukungan Erdogan Atas Konflik Bersenjata Dengan Armenia

Artileri Azerbaijan
suasana pertempuran.net - pakuan

[BP] – Tatar Sunda

Terkait atas konflik perbatasan antara Azerbaijan dan Armenia yang semakin memanas dengan pecahnya pertempuran sengit yang menimbulkan korban jiwa dan luka di kedua belah pihak, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menyampaikan terima kasih kepada Turki atas dukungan untuk negaranya pasca serangan pasukan Armenia di wilayah Nagorno-Karabakh.

Hikmet Hajiyev, asisten presiden dan kepala kebijakan luar negeri untuk Kepresidenan Azerbaijan, mengatakan pihaknya menyambut baik seruan Recep Tayyip Erdogan agar Armenia segera mengakhiri pendudukan wilayah Azerbaijan.

Menurutnya Azerbaijan juga akan selalu berdiri di sisi Turki berdasarkan prinsip dua negara dan satu bangsa.

Bentrokan berdarah di perbatasan meletus pada Minggu pagi, setelah pasukan Armenia menargetkan dan membombardir permukiman sipil Azerbaijan dan posisi militer yang menyebabkan korban jiwa.

Setelah terjadinya serangan tersebut, Parlemen Azerbaijan kemudian mengumumkan keadaan perang di beberapa kota dan wilayahnya menyusul pelanggaran perbatasan Armenia dan serangan di wilayah Nagorno-Karabakh yang diduduki.

Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Upper Karabakh, atau Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara sah oleh internasional.

Empat resolusi dari Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi dari Majelis Umum PBB, serta sejumlah organisasi internasional, menuntut penarikan pasukan pendudukan dari wilayah itu.

OSCE Minsk Group, yang diketuai oleh Prancis, Rusia dan AS, dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai bagi konflik tersebut, tetapi hingga saat ini upaya tersebut tak kunjung berhasil.

Pertempuran kedua negara ini menjadi semakin menarik karena Armenia didukung oleh Rusia dan Azerbaijan didukung oleh Turki.

Seperti yang kita ketahui, selama ini Turki dan Rusia saling bertentangan dan adu kekuatan di Suriah, Libya dan terakhir di konflik Azerbaijan dan Armenia. [jayadewata]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.