Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, Momentum Kebangkitan Islam

Ilustrasi.Net

Bewara Pakuan – Hijrah merupakan sebuah peristiwa besar yang menentukan kelangsungan hidup agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Hijrahnya Rasulullah beserta para pengikutnya dari kota Mekkah ke Madinah pada hakikatnya merupakan sebuah awal dari kebangkitan Islam pada masa-masa selanjutnya.

Adapun Hijrah itu sendiri berarti perpindahan atau migrasi nya Nabi Muhammad dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah pada bulan Juni tahun 622.

Hijrah sendiri dilatarbelakangi oleh adanya skenario dan upaya pembunuhan terhadap Rasulullah SAW pada September 622 oleh para kaum kafir Quraisy, 

Maka secara diam-diam Nabi Muhammad bersama sahabat setianya Abu Bakar pergi meninggalkan kota Mekkah.

Sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad dan pengikutnya berhijrah ke kota Yatsrib yang berjarak 320 kilometer (200 mi) utara Mekkah. 

Kondisi Dakwah Islam di Mekkah Pada Masa Sebelum Hijrah

Tidak semua orang Mekkah dapat menerima dakwah Islam yang dilakukan oleh Rasulullah terutama para tokohnya.

Bila menerima, maka konsekuensinya adalah mereka harus meninggalkan adat dan tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun. 

Pada masa itu masyarakat Mekkah jahiliyah terbiasa menyembah berhala, api, pengundian nasib, dan masih banyak lagi. 

Selain itu, Kaum Quraisy juga khawatir, apabila Islam terus berkembang di Mekkah, dapat menggantikan posisi mereka yang selama ini berkuasa.

Berbagai upaya dilakukan oleh kaum kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasulullah, dari cara yang paling halus sampai menggunakan kekerasan. 

Mereka mengusik kehidupan kaum Muslimin, menyiksa para budak yang beriman, melemahkan ekonomi umat Muslim, hingga membuat Mekah menjadi tempat yang tidak aman untuk tinggal kaum Mukmin.

Para pengikut Rasulullah di Makkah sangat menderita waktu tersebut apalagi yang berasal dari kalangan bawah terutama kaum budak yang tidak memiliki para pelindung 

Melihat kondisi tersebut, Rasulullah memikirkan bagaimana caranya para pengikut beliau dapat hidup dengan aman memeluk agama Islam. 

Ada usulan untuk melaksanakan hijrah seluruh umat muslim ke tempat lain, namun hijrah bukanlah hal yang dapat dilakukan semudah membalikan telapak tangan. 

Proses Hijrah perlu perencanaan yang matang dan tempat yang sesuai, selain itu yang paling utama adalah belum adanya perintah dari Allah SWT untuk melakukan hijrah. 

Perjanjian Aqabah, Landasan Awal Sejarah Hijrah Rasulullah ke Madinah

Suatu hari pada tahun ke-12 kenabian, datang rombongan jamaah haji dari Kota Yatsrib yang berjumlah 12 orang di mana mereka akhirnya bertemu dengan Rasulullah. 

Rasulullah kemudian berdakwah kepada mereka, dan disambut baik. Setelah menerima dakwah dari Rasulullah, 12 orang yang berasal dari Yatsrib ini menyatakan keislaman dan melakukan bai’at kepada Nabi Muhammad SAW.

Bai’at atau perjanjian ini dilakukan di Bukit Aqabah di mana mereka menyatakan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW serta berjanji tidak akan menyekutukan Allah dan berjanji tidak akan membunuh tanpa alasan ataupun melakukan perbuatan curang dan dusta.

Rasulullah kemudian  mengirimkan Mush’ab bin ‘Umair dan ‘Amr bin Ummi Maktum untuk pergi ke Yatsrib, dengan tujuan menyebarkan Islam, mengajarkan shalat dan nilai-nilai Agama Allah. 

Dan pada tahun kenabian ke-13, Rasulullah kembali melakukan bai’at Aqabah yang kedua, dimana pesertanya terdiri atas 73 orang pria dan dua orang wanita dari Yatsrib saat tengah malam. 

Dalam perjanjian kedua ini, mereka menyatakan bahwa penduduk Yastrib bersedia untuk melindungi Nabi Muhammad SAW, ikut memajukan dan menyebarkan agama Islam, serta menerima segala risiko permusuhan dari musuh-musuh Islam.

Setelah Bai’at Aqabah kedua, Rasulullah memerintahkan umat muslim untuk hijrah secara sembunyi-sembunyi dan berkelompok secara bergantian, agar tidak diganggu oleh kaum kafir Quraisy di mana pada waktu itu hanya sahabat Umar bin Khattab yang menyatakan hijrah secara terang-terangan dihadapan kaum kafir Quraisy.

Kota Yastrib merupakan nama yang digunakan sebelum berubah menjadi Madinah setelah kedatangan Rasulullah. Di kota ini terdapat dua suku besar yang selalu bertengkar selama puluhan tahun. 

Oleh sebab itu disebut sebagai kota Yastrib yang memiliki arti mencela dan menghardik. Saat hijrah, Nabi Muhammad mengganti nama Yatsrib menjadi al-Madinah al-Munawwarah, yang artinya ‘Kota yang Bercahaya’.

Perjalanan Hijrah Rasulullah ke Madinah

Informasi mengenai hijrahnya umat muslim terdengar sampai ke telinga para penguasa Mekkah. 

Mereka sangat khawatir kekuatan Umat Islam semakin kuat apabila pindah ke tempat lain dan kemudian suatu hari nanti datang menyerang mereka merebut kekuasaan Mekkah. 

Oleh sebab itu, mereka berupaya hendak menggagalkan perkembangan Islam di luar Mekkah

Ketika itu seluruh umat muslim telah keluar Mekkah, tinggal Nabi Muhammad dan Abu Bakar yang belum keluar dari Mekkah. 

Kaum kafir Quraisy pun berencana menghentikan dakwah Islam dengan cara membunuh Nabi Muhammad.

Pada suatu malam, orang Quraisy bersepakat hendak menghampiri rumah Nabi Muhammad untuk membunuhnya. 

Namun sebelum itu terjadi, Nabi Muhammad telah meminta Ali bin Abi Thalib untuk pura-pura berbaring menggunakan mantelnya di rumah Nabi, dan kemudian pergi diam-diam ke rumah Abu Bakar. 

Sebelumnya Abu Bakar telah menyiapkan dua ekor unta untuk mereka pergi ke Madinah. Namun, Nabi Muhammad lebih memilih cara lain untuk pergi ke sana. 

Pada malam hari, Rasulullah dan Abu Bakar pergi bertolak ke arah selatan menuju Gua Tsur yang menjadi tempat persembunyian. 

Tidak ada seorangpun yang tahu tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar kecuali Abdullah bin Abu Bakar, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar, serta Amir bin Fuhairah.

Kaum Quraisy Melakukan Pencarian Rasulullah SAW

Orang-orang Quraisy yang merasa kecolongan pun sangat marah, mereka terus melakukan pencarian dan menyusuri Mekkah dan sekitarnya dimana niat mereka cuma satu yaitu untuk membunuh Nabi Muhammad. 

Saat mereka tiba di depan Gua Tsur, tim pencari ini kemudian berpapasan dengan seorang gembala, dan bertanya kepadanya.

“Apakah kau melihat Muhammad dan pengikutnya?”

“Mungkin saja mereka ada di dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.” jawab si Gembala. 

Salah satu dari orang Quraisy tersebut mendekati mulut Gua Tsur untuk memeriksa kondisi dan kemudian kembali turun lagi. Kawan-kawannya pun bertanya, kenapa tidak melihat masuk ke dalam gua.

Orang tersebut menjawab, “Ada sarang laba-laba di gua itu yang masih utuh, tidak rusak, dan memang sudah ada sejak Muhammad lahir. Aku juga melihat dua ekor burung di gua, jadi aku tahu tidak ada orang di dalam gua.”

Kaum Quraisy sama sekali tidak tahu, bahwa di dalam Gua Tsur ada Rasulullah yang sedang berdoa dan Abu Bakar yang sedang ketakutan, mendekatkan dirinya ke Nabi Muhammad. 

“La Tahzan Innallaha Ma’ana.” bisik Rasulullah di telinga Abu Bakar yang artinya jangan bersedih, Allah bersama kita.

Sarang laba-laba dan dua ekor burung tersebut merupakan kuasa Allah yang telah dijelaskan dalam firman-Nya Quran Surat Al-Anfaal ayat 30 yang berbunyi, 

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan mu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”

Allah menyelamatkan Nabi Muhammad dan Abu Bakar dari kejaran kaum Quraisy. Melalui peristiwa ini, Allah juga menguatkan mental Nabi Muhammad dan Abu Bakar untuk melanjutkan hijrah ke Madinah.

Pada hari ke-3, Asma putri dari Abu Bakar datang menemui mereka untuk memberikan perbekalan. 

Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar berangkat ke Madinah melalui jalan yang tidak biasa dilalui orang, bersama Abdullah bin Uraiqit sebagai penunjuk jalan. 

Mereka menuju Tihama, daerah dekat laut merah. Berjalan siang malam tanpa kenal lelah hingga pada akhirnya tiba di kota Madinah dan disambut dengan penuh kerinduan oleh Umat Muslim di sana yang sudah menunggu.

Ketika tiba di Madinah, banyak orang yang meminta Rasulullah untuk tinggal di rumahnya. Namun Rasulullah membiarkan untanya memilih rumah untuk tempat tinggal beliau.

Unta tersebut berjalan hingga pada akhirnya berhenti di sebuah rumah punya dua orang anak yatim yaitu Sahl dan Suhail bin Amr. 

Di situlah Rasulullah tinggal dan membangun Masjid pertama di Madinah. 

Dan dari Madinah, umat Islam akhirnya bisa menyusun kekuatan untuk merebut Mekkah dan dari Madinah pula akhirnya para Khulafaur Rasyidin berhasil berhasil melebarkan kekuatan dan menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. 

Thala‘a al-badru ‘alaynā
Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita

Min tsanīyāti al-wadā‘
Dari lembah Wadā‘.

Wajab al-syukru ‘alaynā
Dan wajiblah kita mengucap syukur

Mā da‘ā lillāhi dā‘
Di mana seruan adalah kepada Allah.

Ayyuha al-mab‘ūtsu fīnā
Wahai engkau yang diutus di tengah-tengah kami

Ji’ta bil-amri al-muthā‘
Datang dengan seruan untuk dipatuhi

Ji’ta syaraft al-madīnah
Anda telah membawa kemuliaan kepada kota ini

Marḥaban yā khayra dā‘
Selamat datang penyeru terbaik ke jalan Allah

 

“Ya Allah! Jadikanlah Kami orang-orang yang mencintai Rasulullah dan Ahlul Bait!”

 

(Berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *